krakatau
1. KILAS TENTANG CAGAR ALAM LAUT KEPULAUAN KRAKATAU[1]
Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana yang, karena letusan pada tanggal 26 - 27 Agustus 1883, kemudian sirna. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.
1.1. Letak dan Luas
Kawasan Cagar Alam Laut Kepulauan Krakatau terletak di Selat Sunda dan secara administrasi pemerintahan berada dalam Kabupaten Lampung Selatan. Penetapan kawasan cagar alam laut ini merupakan perluasan Cagar Alam Krakatau melalui SK Menteri Kehutanan No. 85/Kpts-II/1990, tanggal 26 Februari 1990. Perairan cagar alam laut meliputi areal seluas 12.000 ha sedangkan luas daratannya adalah 2.535 ha, terdiri dari Krakatau Besar (Rakata), Krakatau Kecil (Panjang), Anak Krakatau dan pulau Sertung. Gugus Krakatau ini juga telah ditetapkan sebagai kawasan cagar alam sejak tahun 1919.
1.2. Keadaan Fisik Kawasan Gunung
Gugus Kepulauan Krakatau terbentuk setelah terjadi letusan purba yang tidak tercatat dalam sejarah. Anak Krakatau merupakan pulau gunung api yang aktif dan letusan tahun 1883 telah menjadikan Krakatau terkenal secara internasional baik sebagai bahan kajian ilmiah dalam bidang geologi, vulkanologi dan proses suksesi alami flora dan fauna. Puncak tertinggi gugus kepulauan ini adalah Krakatau Besar 813 m/ 2,667 kaki dengan Koordinat : 606’27” LS, 105025’3” BT( dan Anak Krakatau yang berupa kawah aktif ketinggiannya selalu bertambah sejalan dengan kegiatan letusan yang terjadi. Keadaan topografi gugus kepulauan ini pada umumnya curam kecuali sebagian wilayah Pulau Sertung dan Panjang. Kepulauan ini tidak berpenghuni tetapi sering dijadikan tempat berlindung bagi nelayan
1.3. Potensi Flora dan Fauna
Vegetasi yang umum terdapat di Gugus Kepulauan Krakatau terdiri dari hutan pantai yang didominasi oleh Waru Laut (Hibiscus tiliaceus), Cemara Sumatera (Casuarina equisetifolia), dan Ketapang (Terminalia catappa). Semakin ke darat didominasi Hampelas (Ficus sp.) dan Kedondong hutan (Artocarpus sp.). Sedangkan pada pantai berpasir terdapat formasi Ipomoea pescaprae baik di Pulau Anak Krakatau maupun Pulau Sertung. Jenis fauna yang ada pada umumnya dari jenis Biawak (Varanus salvatorius), Ular (Phyton sp.), Burung Elang (Heliastur sp.), dan burung pantai serta Tikus (Rattus sp.). Kehadiran flora dan fauna di Anak
1.4. Potensi Biota Laut
Terumbu karang di perairan sekitar Gugus Kepulauan Krakatau umumnya dalam kondisi rusak akibat pengeboman ikan. Hamparan terumbu karang berada di sisi bagian luar, sedangkan sisi bagian dalam keadaan perairan pantainya curam dan labil akibat pengaruh aktivitas Anak Krakatau yang makin meluas. Pada pantai berpasir (khususnya Pulau Sertung) diketahui sebagai lokasi penyu bertelur, seperti Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Penyu Hijau (Chelonia midas) yang belum dikelola sebagai aset wisata maupun upaya perlindungannya.
2. NARATIF
Secara administratif, pulau bergunung api di Selat Sunda ini sebenarnya masuk dalam wilayah Provinsi Lampung. Sekarang, Anak Krakatau telah mencapai ketinggian 200 meter di atas permukaan laut dengan diameter 2 km.
Berdasarkan informasi yang telah sampai ke Walhi Lampung melalui Bapak Syukur (Warga Pulau Sebesi) dengan Bapak Wisol (Aktivis Lingkungan Lembaga Samudra-Kalianda), pada Hari Kamis, 22 Oktober 2009 di Kalianda, maka Walhi Lampung Menindak lanjuti Informasi tersebut dengan melakukan Investigasi dengan turun Kelokasi (Isu Penambangan Pasir Besi Oleh PT. Ashco Unggul Pratama). Adapun tahapan yang dilakukan dalam melakukan Investigasi lapangan adalah sebagai berikut :
Ø Penggalian Data dari Sumber Informasi dari Kabid Lingkungan Hidup LSM Samudera Kalianda Lampung Selatan, Bapak Wisol dan Bapak Syukur dari Warga Pulau Sebesi di TELKOM Kalianda Lampung Selatan. (Waktu : 18.30 – 22.00 Wib)
Output :
o Bahwa PT. Ashco Unggul Pratama, terindikiasi telah melakukan eksploitasi pasir besi di gunung Anak Krakatau dengan cara Penyedotan. Hal ini sesuai dengan dokumentasi fhoto yang diambil oleh salah satu Warga Pulau Sebesi pada hari Minggu, 18 Oktober 2009.
o Mendapatkan 1 Bundel berkas dengan perihal : ASPEK LEGALITAS KEGIATAN MITIGASI DAMPAK KEGIATAN CAGAR ALAM GUNUNG KRAKATAU (berkas ini tidak lengkap) dan Terlampir KEPUTUSAN BUPATI LAMPUNG SELATAN NOMOR : 503/1728/III.09/2008 TENTANG PEMBERIAN KUASA PENGELOLAAN MITIGASI GUNUNG ANAK KRAKATAU, IZIN PENGANGKUTAN DAN PENJUALAN (Keputusan : H. Zulkifli Anwar / Izin selama 25 Taun), serta berkas terpisah yaitu KEPUTUSAN BUPATI LAMPUNG SELATAN NOMOR : 503/01/MITIGASI/III.7/2009 TENTANG PERSETUJUAN SURVEI DAN PENGUJIANJ ALAT DALAM RANGKA MITIGASI GUNUNG ANAK KRAKATAU (Keputusan : Wendy Melfa, SH.,MH.).
o 4 lembar fhoto PT. Ashco Unggul Pratama yang sedang beraktivitas (Penyedotan) di Gunung Anak
o Merencanakan turun kelokasi Pulau Sebesi dan Gunung Anak Krakatau
Keterangan : Jum’at, 23 Oktober 2009
Ø Penggalian data dilakukan di wilayah Pelabuhan Canti Kalianda dan Masyarakat Wilayah Pulau Sebesi dengan berbagai Sumber sebagai Berikut : Bapak Candra (Nahkoda Kapal Batang Hari) dan 3 (tiga) anak buahnya,Bapak Windra (Nahkoda Kapal TB. KPMP 1204), Bapak Bambang (ABK PT.Ashco Unggul Pratama), Bapak Muhammad Noor (Sekdes Desa Tejang-Pulau Sebesi), Bapak Ujang (Warga Desa Tejang Pulau Sebesi), Bapak RT desa Tejang Pulau Sebesi, Bapak Mandok & Suntama (Warga Desa Tejang Pulau Sebesi), Bapak Muktar (Mantai Kepala Desa Tejang Pulau Sebesi), dan Lain-lain
Sabtu : (Waktu : 10.00 – 23.30 Wib)
Minggu : (Waktu : 07.30 – 22.15 Wib)
Output :
o Informasi yang diasilkan dari berbagai sumber Bahwa PT. Ashco Unggul Pratama, terindikiasi telah melakukan eksploitasi pasir besi gunung Anak Krakatau dengan cara Penyedotan. Hal ini sesuai dengan dokumentasi fhoto yang diambil oleh salah satu Warga Pulau Sebesi pada hari Minggu, 18 Oktober 2009.
o Diperjalanan menuju Pulau Sebesi, Tim Investigasi bersamaan satu kapal dengan Pihak Perusahaan (PT. Ashco Unggul Pratama) Kapten Kapal & Anak Buah Kapal (ABK). Sepanjang perjalanan Tim mendapatkan informasi yang disampaikan oleh Bapak Bambang asal Semarang (ABK), bahwa dikatakan : “ Perusahannya gagal lagi dikarenakan Alat yang digunakan untuk Mitigasi tidak Cocok“.
o Diperjalanan menuju Pulau Sebesi Tim Berpapasan Langsung dengan 2 Buah Kapal Teak Boat yang tidak jauh dengan Pulau Sebesi. Kapal yang kita lihat adalah kapal Milik Perusahaan (PT. Ashco Unggul Pratama), kapal yang satu bersamaan dengan Tongkang (alat pengangkut Pasir). (terdokumentasikan oleh Tim).
o Berdasarkan penyampaian Bapak Muhammad Noor selaku Sekdes dan Warga Desa Tejang Pulau Sebesi dikatakan bahwa Mitigasi yang dilakukan oleh Perusahaan (PT. Ashco Unggul Pratama), itu awalnya diterima oleh masyarakat karena : 1. dianggap dalam Mitigasi tersebut adalah untuk mengurangi Resiko Bencana apabila dikemudian hari terjadi bencana itu tidak berdampak besar teradap penduduk, 2. Mitigasi yang dilakukan adalah untuk Pembuatan Lorong-Lorong, dan Parit-parit Larva, 3. Dijanjikan akan dibuatkan Fasilitas Sirine Bencana dari Hasil penjualan Pasir Anak Gunung Krakatau. Penyampaikan hasil Sosialisasi yang dilakukan terhadap Warga Pulau Sebesi Pada hari MINGGU, 13 Agustus 2009, oleh pihak Perusahaan (PT. Ashco Unggul Pratama), Aparat Keamanan Polres Lampung Selatan, BKSDA Propinsi, Polhut Propinsi, KSDA Propinsi, Dinas Pariwisata dan Para Ahli. Adapun Nama-nama yang ikut serta dalam sosialisasi Mitigasi Anak Gunung Krakatau antara lain :
1. Subakir (BKSDA Provinsi)
2. Suharsono (Pimpinan / Direktur Utama PT. Ashco Unggul Pratama)
3. Novika (PT. Ashco Unggul Pratama)
4. Okto Bertho. S. SH.,MH. (Polres Kalianda Lampung Selatan)
5. Wawan Eviyanto, SP. (Polhut Provinsi)
6. Ahyar Abu (KSDA – Tanjung Karang Propinsi)
7. Prof. DR. Ali Kabul M (Pakar/Ahli)
8. Hayun (Parawisata)
o Setelah PT. Ashco Unggul Pratama beraktivitas, kemudian warga melihat proses secara langsung dalam Mitigasi terhadap Anak Gunung Krakatau, maka warga mengamati bahwa aktivitas yang dilakukan ole PT. Ashco Unggul Pratama dianggap tidak sesuai dengan apa yang disosialisasikan pada tanggal, 13 Agustus 2009. dengan penuh kecurigaan hal ini dilaporkan oleh aparat dan Warga Setempat melaui SMS kepada Bapak Umar Dani selaku Kapolres Lampung Selatan, maka dijawab nya : “Itu tidak Apa-apa, itu
Pada Hari Minggu, 18 Oktober 2009, warga Pulau Sebesi melakukan Ritual (selamatan) ke Gunung Anak Krakatau, pada tanggal ini lah masyarakat melihat secara dekat aktivitas Penyedotan Pasir Gunung Anak Krakatau oleh PT. Ashco Unggul Pratama, kemudian masyarakat mengambil Gambar/mengabadikan Aktivitas tersebut dengan kamera HP.
o Dari Aktivitas inilah dengan pengabadian gambar dari Warga sehingga disebar luaskan oleh warga & LSM yang ada dikalianda ke Publik, maka isue ini sampai Kepemerintahan tingkat Propinsi. Kemudian pada hari Jum’at, 23 Oktober 2009, BKSDA beserta jajarannya melakukan operasi ke Anak Gunung Krakatau.
o Pada tanggal, 24 – 25 Oktober 2 kapal dari beserta Tongkang (Pengangkut pasir) dar PT. Ashco Unggul Pratama, balik Kejakarta untuk sementara Waktu
Keterangan : Sabtu & Minggu, 24 - 25 Oktober 2009
Ø Tim Turun Kelokasi Penambangan Pasir Anak Gunung Krakatau bersama dengan Masyarakat Desa Tejang (Bapak Syukur, Bapak Muhammad Yusuf, Bapak Windra (Nahkoda), Bapak Sapri), Bapak Indra (Warga Belambangan-Penengahan Lampung Selatan), Bapak Pajri (LSM Palu Lampung), Bapak Busro Ali (Wartawan Sentana) dan Didi Bule (KPA. RISEL Sumur Kumbang) (Waktu 08.00 – 18.00 Wib)
Output :
o Pihak PT. Ashco Unggul Pratama yang di Isukan melakukan Penyedotan (Eksploitasi) Pasir Besi Anak Gunung Krakatau ternyata tidak berada dilokasi.
o Dari hasil pengamatan kelokasi bahwa terlihat pohon Cemara tumbang Menurut Warga itu diakibatkan dari penambatan Kapal PT. Ashco Unggul Pratama yang pada waktu itu (18 Oktober 2009) melakukan Penyedotan/Penambangan Pasir.
Komentar
Posting Komentar